Hipnosis Tradisional

hipnosis tradisionalHipnosis sebenarnya bukanlah sebuah disiplin baru. Hipnosis beserta penggunaannya sudah sejak jaman dahulu. Sejarah hipnosis, berawal dari penggalian budaya dimasa lalu, baik budaya Yunani, Mesir Kuno, maupun budaya yang lain. Demikian juga di Indonesia, jika kita melihat lebih jauh, awal mula fenomena hipnosis dan budaya Indonesia pada dasarnya mempunyai prinsip yang sama. Budaya kita sangat kaya akan fenomena-fenomena hipnosis dengan segala ke khasan etnik budayanya. Hingga saat ini, budaya dan fenomena tersebut masih berlaku dengan segala sugesti akan keyakinan dan kepercayaan pada budaya tersebut. Menariknya hipnosis sering di campur adukkan dengan berbagai mitos dan penyimpangannya seperti sebagai sihir, klenik dan kekuatan supranatural. Kondisi hipnosis tradisional yang berkembanga pada masyarakat awam adalah hipnosis yang bersifat “mistik”.  Hipnosis barat dan hipnosis tradisional meskipun berbeda namun  memiliki kesamaan dimana sama – sama mempengaruhi pikiran bawah sadar.

Hipnosis barat mendasarkan pada kerja sama antara seorang hipnotis/hipnoterapis dengan kliennya. Bagaimana mengkondisikan klien untuk dapat dihipnosis. Dalam hipnosis barat akan di pelajari berbagai macam teknik untuk menghadapi klien. Mulai dari tahapan pre-induction sampai dengan termination. Dari sekian banyak teknik pre-induction lah yang paling penting. Pre-induction merupakan teknik bagaimana wawancara, menggali informasi dan membangun kepercayaan klien, sehingga klien siap dan bersedia untuk melakukan serangkaian proses hipnosis.

Sedangkan hipnosis tradisional lebih berorientasi kepada pelaku bagaimana mengolah diri untuk menghipnosis orang lain. Sisi menariknya jika kita ingin mempelajari hipnosis tradisional ini, kita di haruskan mengolah apa pun potensi yang ada dalam diri kita, kekuatan batin adalah kuncinya. Karena dengan kekuatan batin inilah seorang pelaku hipnosis memiliki auto sugesti, bahwa dirinya yakin dan bisa menghipnosis seseorang.

Untuk mendapatkan kekuatan batin ini di olah melalui ritual atau lelaku tertentu sebagai sarana auto sugesti seperti puasa, mandi kembang, tapa brata, semedi bahkan di daerah tertentu di nusantara ada ritual sesajen, kumkum (berendam di sungai/danau/kali). Apa pun bentuk ritualnya hal yang paling terpenting  kondisi mental seseorang harus terbentuk melalui ritual ini.

Leave a Reply